8 TIA MEDIA – Pengadilan kebangkrutan Delaware resmi menyetujui permohonan Three Arrows Capital (3AC) untuk memperbesar klaimnya terhadap FTX dari $120 juta menjadi $1,53 miliar. Keputusan ini memperumit distribusi aset kepada para kreditor yang masih menunggu kepastian pembayaran dari kebangkrutan FTX.
Klaim 3AC Melonjak Setelah Temuan Baru
3AC, hedge fund kripto yang dulu mengelola lebih dari $3 miliar aset, runtuh pada 2022 di tengah krisis pasar kripto. Sebelumnya, 3AC mengajukan klaim sebesar $120 juta terhadap FTX pada Juli 2023, namun pada November 2024, likuidatornya menemukan bukti baru bahwa FTX telah melikuidasi aset 3AC senilai $1,53 miliar hanya dua minggu sebelum 3AC memulai proses likuidasi.
FTX berargumen bahwa aset yang dilikuidasi tersebut merupakan jaminan untuk pinjaman senilai $1,3 miliar yang diberikan kepada 3AC. Namun, pengadilan menolak klaim tersebut dengan alasan kurangnya bukti yang cukup dari pihak FTX untuk membuktikan adanya pinjaman tersebut.
Dampak bagi Kreditor FTX
Keputusan ini membuka peluang bagi 3AC untuk mendapatkan porsi yang lebih besar dari sisa aset FTX. Namun, langkah ini juga berpotensi mengurangi pembayaran bagi kreditor lain yang telah lebih dulu menunggu pengembalian dana mereka. FTX sendiri telah mulai mendistribusikan dana kepada kreditor sejak Februari 2025 dan berpendapat bahwa klaim tambahan dari 3AC dapat menghambat proses reorganisasi yang sedang berlangsung.
Pengadilan menilai bahwa keterlambatan pengajuan klaim yang lebih besar oleh 3AC dapat dibenarkan, mengingat bukti baru tersebut baru ditemukan pada pertengahan 2024 akibat kurangnya catatan keuangan dari FTX serta minimnya kerja sama dari pendiri 3AC, Zhu Su dan Kyle Davies.
Dinamika 3AC dan FTX dalam Sejarah Kripto
3AC didirikan pada 2012 dan sempat menjadi salah satu hedge fund paling berpengaruh di industri kripto hingga akhirnya bangkrut pada 2022. Kehancuran 3AC menjadi salah satu pemicu efek domino yang mengarah pada kehancuran ekosistem kripto, termasuk terungkapnya skandal di FTX yang berujung pada kebangkrutan besar-besaran.
Sementara itu, pendiri FTX, Sam Bankman-Fried, tengah mengajukan banding atas vonis kriminal dan hukuman penjara 25 tahun yang dijatuhkan kepadanya. Zhu Su sendiri telah menjalani hukuman penjara empat bulan di Singapura karena tidak bekerja sama dengan likuidator 3AC, sementara Kyle Davies tidak menghadapi tuntutan hukum terkait kehancuran hedge fund tersebut.
Pada 2023, kedua pendiri 3AC sempat meluncurkan bursa kripto OPNX, yang memungkinkan perdagangan klaim kebangkrutan perusahaan kripto. Namun, proyek tersebut hanya bertahan singkat sebelum akhirnya ditutup pada Februari 2025.
Dengan keputusan pengadilan ini, posisi 3AC dalam proses kebangkrutan FTX semakin kuat. Namun, pertanyaan besar kini muncul: bagaimana klaim yang diperbesar ini akan memengaruhi kreditor lain? Kasus ini juga menyoroti kurangnya transparansi baik di FTX maupun 3AC, yang semakin memperumit upaya untuk menyelesaikan sengketa aset dan kewajiban kedua perusahaan.