Bloomberg Intelligence senior commodity strategist Mike McGlone kembali melontarkan pernyataan yang mengguncang komunitas crypto global pada Sabtu (21/03). Ia menyebut gelembung cryptocurrency sudah pecah dan bear market yang sedang berlangsung bisa bertahan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Pernyataan ini bukan yang pertama dari McGlone, tapi kali ini datang bersamaan dengan kontext yang lebih kompleks: emas dan perak yang ia rekomendasikan justru mengalami volatilitas ekstrem akibat perang Iran, sementara institusi-institusi keuangan terbesar dunia justru semakin agresif masuk ke Bitcoin.
Argumen McGlone: Crypto Menghadapi Terlalu Banyak Pesaing
Inti argumen McGlone berakar pada perbandingan unik antara Bitcoin dan komoditas tradisional seperti emas. Ketika Bitcoin pertama kali diluncurkan pada 2009, ia benar-benar satu-satunya aset digital jenis ini di dunia. Tidak ada pesaing. Tidak ada pilihan lain bagi mereka yang ingin bereksposur ke kelas aset baru ini. Kondisi itu, menurut McGlone, adalah fondasi utama kenaikan harga yang luar biasa selama 15 tahun terakhir.
Hari ini, kondisi itu sudah berubah drastis. Bitcoin kini bersaing dengan ribuan bahkan jutaan aset kripto lainnya yang masing-masing menawarkan narasi dan use case tersendiri. Sementara emas, setelah ribuan tahun, hanya bersaing dengan tiga pesaing utama: perak, platinum, dan paladium. Kelangkaan kompetisi inilah yang membuat emas mempertahankan nilai lebih baik dalam jangka panjang, menurut laporan Bloomberg Intelligence yang ia publikasikan (21/03).
McGlone juga menyoroti dua faktor makro yang ia anggap sebagai tanda-tanda kondisi akhir siklus. Pertama, valuasi ekuitas AS yang sudah mencapai rekor historis relatif terhadap GDP, sebuah kondisi yang secara historis selalu mendahului koreksi besar. Kedua, perpindahan cepat investor global dari aset berisiko ke emas dan perak yang ia sebut sebagai konfirmasi bahwa risk appetite sedang turun secara struktural. Kombinasi dua faktor ini, ditambah dengan dampak perang Iran pada inflasi global, membuat McGlone memperkirakan Bitcoin bisa jatuh ke $50.000 sebagai batu loncatan menuju $10.000.
Emas Kini Justru Jadi Aset Berisiko
Bagian paling kontroversial dari pernyataan McGlone bukan prediksi Bitcoin, melainkan klaimnya tentang emas dan perak. Ia menyatakan bahwa kedua logam mulia ini, yang secara tradisional dianggap sebagai aset penyimpan nilai, kini telah bertransformasi menjadi aset volatilitas tinggi yang berisiko.
Argumen ini memiliki dasar empiris yang bisa diperdebatkan. Sejak eskalasi konflik Iran pada akhir Februari 2026, emas memang mengalami lonjakan harga yang sangat tajam didorong permintaan safe haven global. Tapi lonjakan yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik bukanlah tanda kelangkaan fundamental, melainkan tanda sensitivitas terhadap faktor eksternal. Ketika konflik mereda, koreksi bisa terjadi sama dramatisnya dengan kenaikan.
Counter-Argument: Institusi Justru Makin Masuk
Pernyataan McGlone langsung mendapat respons keras dari komunitas crypto. Dave Weisberger, mantan CEO CoinRoutes yang kini menjadi salah satu suara paling dihormati di industri derivatif crypto, memberikan sanggahan yang tajam.
Weisberger menyoroti ironi situasi saat ini: emas, yang McGlone rekomendasikan sebagai alternatif Bitcoin, justru sangat sulit dipindahkan di zona konflik karena sifat fisiknya yang berat. Sementara Bitcoin, yang bisa dipindahkan lintas negara hanya dengan mengingat 12 kata seed phrase, terbukti lebih portabel dalam kondisi perang. Data performa juga berbicara: sejak eskalasi konflik Iran 28 Februari, Bitcoin naik 7 persen sementara emas turun 3 persen, menurut data CoinDesk (12/03).
Weisberger juga berargumen bahwa model ekonomi konvensional yang digunakan McGlone sudah tidak lagi relevan dalam era di mana bank sentral secara sistematis mendevaluasi mata uang fiat melalui pencetakan uang masif.
Yang paling membungkam argumen McGlone adalah timing-nya. Tepat di hari ia mempublikasikan analisis tentang runtuhnya crypto, dua institusi keuangan raksasa justru melakukan langkah sebaliknya. Morgan Stanley mengajukan aplikasi ETF Bitcoin dengan ticker MSBT ke SEC, sementara Grayscale mendaftarkan ETF Hyperliquid dengan ticker GHYP. JPMorgan dalam analisis terpisah minggu ini bahkan menyatakan bahwa Bitcoin kini terlihat lebih menarik dibandingkan emas dalam jangka panjang, mengingat volatilitas emas yang melonjak drastis pasca konflik Iran.
Track Record McGlone: Seberapa Akurat Prediksinya?
Sebelum mengambil pernyataan McGlone sebagai panduan investasi, penting untuk melihat rekam jejak prediksinya secara objektif.
Pada Desember 2024, McGlone memprediksi Bitcoin akan turun ke $10.000 pada 2025. Kenyataannya, Bitcoin justru mencapai all-time high $126.000 pada Oktober 2025, menjadikannya salah satu prediksi yang paling meleset dalam sejarah analisis keuangan mainstream. Ia juga konsisten memprediksi Bitcoin akan turun sepanjang 2023 dan 2024, di mana Bitcoin justru naik lebih dari 300 persen dalam periode tersebut.
Ini bukan berarti McGlone selalu salah atau analisisnya tidak layak dibaca. Ia adalah analis berpengalaman dengan pemahaman mendalam tentang komoditas tradisional. Tapi ketika ia berbicara tentang Bitcoin dan crypto, track record-nya menunjukkan bias struktural yang perlu diperhitungkan.
Apa Artinya untuk Investor Indonesia?
Bagi 21 juta investor crypto di Indonesia, perdebatan ini menghadirkan pelajaran penting tentang cara mengonsumsi analisis keuangan. Bitcoin saat ini berada di $70.335 atau Rp 1,19 miliar per koin, naik 3 persen pada hari ini setelah mencatat kinerja negatif di Januari dan Februari. Fear and Greed Index berada di angka 12, masuk zona Extreme Fear, menandakan sentimen pasar yang sangat pesimistis.
Kondisi Extreme Fear historisnya adalah zona di mana investor jangka panjang cenderung melakukan akumulasi, bukan menjual. Data on-chain menunjukkan institusi dan whale besar sedang agresif mengakumulasi Bitcoin di level saat ini, sementara retail trader justru memilih posisi short. Divergensi antara smart money dan retail dalam kondisi Extreme Fear adalah salah satu setup yang paling banyak dibahas oleh analis on-chain sebagai sinyal kontrarion bullish.
Sebagai informasi, Bitcoin hari ini mencatat kinerja positif pertama di bulan Maret 2026, memutus dua bulan berturut-turut penurunan. Total market cap crypto naik 3,06 persen ke $2,44 triliun. Dalam konteks narasi McGlone tentang runtuhnya crypto, pergerakan hari ini menarik untuk dipantau sebagai data poin awal yang perlu dikonfirmasi oleh pergerakan lebih lanjut dalam beberapa minggu ke depan.