Harga Bitcoin turun ke $66.700 atau sekitar Rp 1,13 miliar dalam hitungan jam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada Sabtu (28/02). Bukan karena ada masalah teknis di jaringan Bitcoin. Bukan karena hack. Semua bermula dari satu komoditas yang paling tua dan paling penting di dunia: minyak bumi.
Selat Hormuz dan Rantai yang Menggerakkan Segalanya
Iran merespons serangan dengan menutup Selat Hormuz, jalur laut sempit di Teluk Persia yang menjadi lintasan bagi 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Reaksi pasar energi langsung brutal. Minyak mentah Brent melonjak 30 persen ke $120 per barel hanya dalam satu sesi perdagangan, mencatat kenaikan harian terbesar dalam sejarah pasar energi modern. IEA menyebut ini sebagai tantangan keamanan energi dan pangan terbesar yang pernah dihadapi umat manusia.
Dari sini, rantai sebab-akibatnya bekerja secara sistematis. Minyak yang mahal berarti biaya produksi naik di hampir semua sektor. Biaya produksi yang naik berarti harga barang dan jasa ikut naik. Inflasi yang tinggi membuat bank sentral AS atau Federal Reserve tidak punya ruang untuk memangkas suku bunga. Dan suku bunga yang tinggi berarti tidak ada uang murah yang bisa mengalir ke aset-aset berisiko seperti Bitcoin dan saham teknologi.
Federal Reserve Konfirmasi Skenario Terburuk
Ketidakpastian ini dikonfirmasi langsung oleh Fed pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung 17 hingga 18 Maret 2026. Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen dan hanya memproyeksikan satu kali pemangkasan bunga sepanjang 2026. Angka ini jauh di bawah ekspektasi awal tahun yang memperkirakan tiga kali pemangkasan.
Fed Chair Jerome Powell secara eksplisit menyebut kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah sebagai penyebab utama inflasi jangka pendek yang belum bisa diukur dampak penuhnya. Pasar langsung bereaksi. Lebih dari $364 juta aset crypto dilikuidasi dalam 24 jam setelah pengumuman ini, menurut data CoinGlass (18/03).
Fakta yang Jarang Dibahas: Bitcoin Lebih Tahan dari Saham dan Emas
Di tengah semua tekanan ini, ada satu data yang nyaris luput dari perhatian media mainstream. Sejak eskalasi konflik pada 28 Februari, Bitcoin justru mencatat kenaikan 7 persen. Dalam periode yang sama, S&P 500 turun 1 persen, emas turun 3 persen, dan perak turun 9 persen, menurut laporan CoinDesk yang dirilis (12/03).
Bitcoin terbukti menjadi aset yang paling resilient dalam krisis geopolitik ini dibandingkan instrumen investasi tradisional lainnya. Pola ini mulai menggeser narasi lama yang selalu menempatkan Bitcoin sebagai aset spekulatif murni. Semakin banyak analis yang melihat Bitcoin memiliki karakteristik lindung nilai sebagian, terutama dalam kondisi krisis yang tidak terduga.
Dampak bagi Investor Indonesia
Indonesia bukan sekadar penonton dalam krisis ini. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan harga minyak ke $100 per barel memberi tekanan langsung pada inflasi domestik dan berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM. Ini berdampak langsung pada daya beli 21 juta investor crypto lokal yang sudah terbiasa mengalokasikan sebagian pendapatan ke aset digital.
Fear and Greed Index crypto per 21 Maret 2026 berada di angka 26, masuk zona Fear. Bitcoin saat ini stabil di kisaran $70.500 atau Rp 1,19 miliar per koin. Meskipun jauh dari ATH $126.000 yang tercatat Oktober 2025, level ini menunjukkan pasar sudah menemukan keseimbangan sementara di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.
Apa yang Perlu Dipantau ke Depan
Analis dari Wintermute, salah satu market maker crypto terbesar di dunia, menyebut harga minyak sebagai indikator terpenting untuk memantau arah Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. Jika minyak berhasil turun ke bawah $80 per barel, ini akan menjadi sinyal paling kuat bahwa tekanan makro terhadap Bitcoin mulai mereda dan Fed punya ruang kembali untuk memangkas bunga.
Pola historis mendukung optimisme ini. Saat Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, Bitcoin juga mengalami penurunan tajam yang membuat banyak investor panik. Namun dalam hitungan minggu setelah pasar selesai memperhitungkan dampak geopolitiknya, Bitcoin pulih signifikan. Kunci pemulihannya saat itu adalah normalisasi harga energi global.
Sebagai informasi, konflik Iran-AS-Israel saat ini sudah berlangsung lebih dari tiga minggu sejak serangan pertama pada 28 Februari 2026. China telah mendesak semua pihak untuk menghentikan eskalasi, sementara jalur negosiasi untuk gencatan senjata masih belum menemukan titik temu. Selama ketidakpastian ini berlanjut, volatilitas di pasar crypto kemungkinan akan tetap tinggi.